Covid-19 RI per 2 September: 8.955 Kasus Baru, 21.208 Sembuh, 680 Meninggal

Covid-19 RI per 2 September: 8.955 Kasus Baru, 21.208 Sembuh, 680 Meninggal
Ilustrasi (wjtoday/yoga enggar)

WJtoday, Bandung - Pemutakhiran Covid-19 di Indonesia pada Kamis  (2/9/2021) melaporkan penambahan sebanyak 8.955 kasus baru. Dengan demikian, jumlah total telah mencapai 4.109.093 kasus selama pandemi berlangsung.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan pada Rabu ini,  tercatat pula dari total kasus positif, sebanyak 3.798.099 di antaranya telah sembuh. Pasien yang sembuh bertambah 21.208 dari hari sebelumnya.

Sementara sebanyak 134.356 orang lainnya meninggal dunia. Pasien yang meninggal dunia usai terinfeksi virus corona bertambah 680 dari kemarin.

Kemudian kasus aktif atau pasien yang dirawat di rumah sakit maupun isolasi mandiri sebanyak 176.638 orang. Jumlah ini turun drastis dibanding Juli 2021. Spesimen yang diperiksa 208.715 sampel.

Baca juga: Jokowi Sering Bingung, Data Covid-19 di Daerah dan Pusat Selalu Berbeda

Pada Rabu (1/9/) kemarin, tercatat penambahan 10.337 kasus baru, kemudian pengurangan kasus aktif sebanyak 6.710 orang. Lalu pasien yang sembuh bertambah 16.397 , dan pasien yang meninggal dunia usai terinfeksi virus corona bertambah 653 orang.

Pandemi virus corona melanda Indonesia setahun lebih. Lonjakan kasus tertinggi terjadi beberapa pekan setelah Idulfitri 2021. Saat ini kasus mulai turun, baik angka kasus baru maupun pasien yang meninggal dunia. Keterisian rumah sakit pun juga menurun.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan tingkat penularan virus corona sudah turun hingga 90 persen pada Senin (30/8).

Presiden Joko Widodo atau Jokowi sering bingung karena data Covid-19 di Indonesia tidak kunjung sempurna. Hal tersebut dikatakan oleh Deputi II Bidang Pembangunan Manusia Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Abetnego Tarigan.

Abetnego mengatakan, Presiden Jokowi kerap kali mempertanyakan kevalidan data pandemi Covid-19 yang dilaporkan dari setiap daerah sering tidak sinkron dengan data pusat.

"Misalnya contoh orang ngomong dari data, tidak usah LaporCovid-19, presiden saja ngeluh soal data kok, jadi presiden itu nanya berkali-kali, 'kok bisa sudah satu tahun lebih data gak beres-beres', itu pernyataan pak presiden langsung dalam rapat kabinet," kata Abetnego dalam diskusi virtual dipantau pada Kamis (2/9/2021).  ***