Buron Lebih dari 500 Hari, ICW Tuding KPK Enggan Tangkap Harun Masiku

Buron Lebih dari 500 Hari, ICW Tuding KPK Enggan Tangkap Harun Masiku
Buronan KPK Harun Masiku dengan kasus suap terkait PAW anggota DPR RI (antara)

WJtoday, Bandung - Indonesia Corruption Watch (ICW) memberikan tudingan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bawah pimpinan Firli Bahuri soal keengganan menangkap Harun Masiku.

Kurnia Ramadhana (peneliti ICW) mengatakan belum terlihat upaya nyata yang ditunjukkan lembaga antirasuah untuk meringkus eks caleg PDIP itu sejak ditetapkan sebagai tersangka pada 9 Januari 2020.

"Setidaknya sudah lebih dari 500 hari lembaga antirasuah itu tak kunjung berhasil meringkus Harun Masiku. Dikaitkan dengan kondisi terkini, semakin jelas dan terang benderang bahwa pimpinan KPK tidak menginginkan buronan itu diproses hukum," ujar Kurnia melalui pesan tertulis, seperti dikutip CNNIndonesia, Senin (7/6/2021).

Kurnia melanjutkan, kecurigaan menguat ketika KPK baru meminta Sekretaris National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia untuk menerbitkan Red Notice guna menangkap Harun pada 31 Mei 2021. Upaya ini dinilai lambat lantaran yang bersangkutan sudah menjadi tersangka lebih dari 500 hari yang lalu.

Ditambahkannya, dugaan keengganan pimpinan KPK menangkap Harun juga terlihat dari pengembalian paksa penyidik Rossa Purbo Bekti ke Kepolisian. Diketahui, Rossa tergabung ke dalam tim yang menangani kasus Harun.

Baca juga: KPK Minta NCB Interpol Terbitkan Red Notice Untuk Harun Masiku

Selain itu, penonaktifan beberapa pegawai yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) dan tak lain adalah tim pemburu buronan termasuk Harun juga menjadi dugaan faktor yang melatarbelakangi Harun tak kunjung ditangkap.

"Atas dasar itu, ICW menduga TWK ini juga bertujuan untuk mengamankan Harun Masiku agar tidak diringkus oleh Penyelidik maupun Penyidik KPK," sebut Kurnia.

Seperti diketahui, Harun Masiku ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK lantaran diduga menyuap mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan, agar bisa ditetapkan sebagai pengganti Nazarudin Kiemas yang lolos ke DPR, namun meninggal dunia. Harun diduga menyiapkan uang sekitar Rp850 juta untuk pelicin agar bisa melenggang ke Senayan. ***