Buntut Tren Influencer Jadikan Satwa Liar Konten Picu Perburuan Secara Ilegal

Buntut Tren Influencer Jadikan Satwa Liar Konten Picu Perburuan Secara Ilegal
ilustrasi Tren Influencer Jadikan Satwa Liar Konten

WJtoday, Jakarta - Belakangan, banyak influencer menjadikan satwa liar sebagai konten untuk menaikkan engagement mereka. Tak jarang, hal tersebut memungkinkan kenaikan permintaan satwa liar dan perburuan secara ilegal.

Menanggapi hal itu, Pakar Satwa Liar Universitas Airlangga (Unair) Dr Boedi Setiawan DVM MP, mengatakan, bahwa satwa liar seharusnya berada di habitat asalnya dan tidak didomestikasi, terlebih satwa yang dilindungi.

Menurutnya, masyarakat tetap boleh memanfaatkan hewan, tetapi harus memerhatikan terlebih dahulu satwa tersebut dilindungi atau tidak.

“Jika masih banyak di alam, silakan. Namun tetap harus diawasi. Contohnya biawak air tidak dilindungi, kalau diburu secara terus menerus lama kelamaan akan punah,” ucapnya, Senin (4/4/2022).

Ia menuturkan, jika satwa memiliki fungsinya masing-masing di alam. Baik sebagai predator maupun makanan predator dalam ekosistem.

Jika salah satunya punah, maka rantai makanan akan terganggu. “Satu hilang, maka populasi lain akan meningkat. Maka dari itu harus tetap dijaga supaya tetap ada di alam. Jika jumlahnya sudah semakin habis, harus dilindungi oleh negara,” tuturnya.

Pemerhati dan fotografer satwa liar ini mengungkapkan, untuk mencegah kepunahan satwa liar tetap dapat dipelihara dengan maksud melestarikan keberadaannya.

Namun, ada beberapa kriteria tersendiri yang telah diatur oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). “Kalau sifatnya penangkaran, hewan yang dipelihara akan didata dan diberi tanda merupakan hasil budidaya dari penangkaran tersebut,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, bibit satwa liar yang akan dibudidayakan tidak boleh berasal dari alam liar, tetapi dari penangkaran yang telah ada sebelumnya. Hasil dari budidaya tersebut nantinya harus dikembalikan ke alam liar.

“BKSDA yang akan menentukan alamnya. Bukan asal lepas liar, tetapi harus sesuai dengan hebitatnya. Intinya, tujuan memilihara satwa liar adalah budidaya penangkaran, bukan untuk koleksi semata,” tegas Boedi.

Untuk itu, ia menghimbau masyarakat untuk tidak membawa satwa liar ke rumah dan berniat memilikinya. Bagi masyarakat yang menggemari satwa liar dapat melihatnya langsung di habitat ataupun lembaga konservasi satwa dengan tetap memerhatikan aspek kesejahteraan hewan.

Menurutnya, dengan membawa satwa liar ke rumah dan menganggapnya sebagai hewan peliharaan, kesejahteraan hewan akan sulit terpenuhi.

"Jika satwa tersebut berada di alam akan lebih mudah untuk menjaga produktivitas, sehingga terhindar dari kepunahan. Selain itu, satwa juga dapat bersosialisasi dengan kawanannya. Kalau misalnya ada niatan untuk memelihara satwa liar. Itu bukan mencintai, tetapi menghilangkan dan mempercepat kepunahan jika tidak memperhatikan kesejahteraan hewannya. Perihalah satwa di habitatnya,” tutupnya.***