Bubur Suro, Makanan Khas Tahun Baru Islam di Jawa dan Maknanya

Bubur Suro, Makanan Khas Tahun Baru Islam di Jawa dan Maknanya
Ilustrasi (instagram)

WJtoday, Bandung - Perayaan Tahun Baru Islam atau identik dengan sebutan malam satu suro dirayakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Biasanya perayaan dilakukan dengan arak-arakan warga yang membawa obor sambil bersyahadat sepanjang jalan.

Tak hanya arak-arakan obor, ada satu panganan khas yang juga identik dengan perayaan satu suro ini. Biasanya masyarakat di daerah Jawa akan memasak panganan yang kemudian dikenal dengan istilah bubur suro atau bubur gurih.

Bubur Suro juga berbeda dengan bubur lainnya yang dimasak oleh masyarakat di Jawa, bubur mereka yang biasanya terkenal manis bahkan diberi nama jenang justru di satu suro ini malah terasa gurih dan asin.

Bubur Suro dibuat gurih dengan berbagai menu pendamping lainnya yang juga memiliki cita rasa asin, gurih hingga pedas.

Romo Doni Satriyowibowo, Budayawan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU yang juga menjadi tenaga pengajar budaya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menyebut bubur suro memang memiliki makna tersendiri dalam setiap penyajiannya.

Bahkan dari penamaanya saja bubur ini melambangkan nama baik, reputasi baik dan budi pekerti yang harus dijunjung manusia. Apalagi penyajian bubur ini juga dilakukan pada awal tahun menurut penanggalan islam, yang berarti menjadi jalan manusia menuju tahun baru dengan pemikiran yang lebih baik.

"Kan bubur dalam bahasa Jawa disebutnya jenang. Jenang itu artinya ya nama yang baik, hal-hal yang baik," kata Romo seperti dikutip CNNIndonesia.com, Selasa (10/8/2021).

Tak hanya itu, pemilihan bubur alih-alih nasi sebagai menu yang disajikan dalam perayaan satu suro ini juga memiliki makna persatuan. Bubur adalah panganan yang akan melekat satu sama lain, sulit dipecah seperti nasi.

Maknanya adalah, semua akan menjadi satu, tidak boleh egois. Lengket dan saling bahu-membahu.

"Jadi konsep bubur atau jenang itu berhubungan dengan nama baik, berhubungan dengan budi pekerti, berhubungan dengan menghilangkan ego pribadi dan lebih ke sosial kolektif," kata dia.

Tak hanya itu, rasa gurih dalam bubur suro juga menggambarkan realita kehidupan yang harus dijalani manusia. Jika rasa manis identik dengan suka cita, maka pemilihan rasa gurih dan asin dalam bubur suro berhubungan realita kehidupan.

"Konsep dari realita dunia. Jadi orang gak boleh menentang takdir atau tolak keputusan Tuhan. Istilahnya asam garam kehidupan ada di dalam bubur ini," jelasnya.

Bahkan angka tujuh, yang tertuang dalam bubur suro ini kata dia juga memiliki arti atau makna tersendiri. Tujuh dalam bahasa Jawa bisa juga disebut pitu, pitu yang berarti pitulungan atau pertolongan.

"Soal angka 7 itu pitulungan. Pitu. Kalau di Jawa itu pertolongan Tuhan. Masuknya tahun baru kita gak tahu apa-apa, orang harus berbaik sangka terhadap pitulungan Tuhan," ungkap Romo.

Romo juga menyebut konsep bubur suro ini juga bisa jadi identik dengan rasa duka cita yang dialami umat islam setelah Syaidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW meninggal dalam perang.

Oleh karena itu, sebagai ungkapan duka cita, umat islam mengenang dengan membuat bubur suro dan membagikannya ke anak-anak yatim di sekitar mereka.

"Karena waktu itu banyak anak yatim, banyak yang gugur saat perang. Makanya bubur dibagikan, ke tetangga. Masing-masing rumah membuat bubur," sebutnya.

"Jadi ya makna sebenarnya dari bubur suro ya saling membantu, mendoakan." tandasnya.  ***