BRIN Tanggapi Kesuksesan Transplantasi Jantung Babi ke Manusia di AS

BRIN Tanggapi Kesuksesan Transplantasi Jantung Babi ke Manusia di AS
Operasi transplantasi Jantung Babi. (twitter)

WJtoday, Jakarta - Ilmuwan di Amerika Serikat (AS) menyatakan sukses melakukan operasi cangkok atau transplantasi jantung babi ke manusia pada awal Januari 2022 ini.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menanggapi kesuksesan transpantasi tersebut masih memerlukan kajian dari sisi etik dan agama jika cangkok jantung tersebut ingin diterapkan.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengemukakan perlunya pengkajian dari sisi etik hingga kearifan lokal mengenai transplantasi jantung babi ke manusia.

"Sebagai riset tentu ini menarik. Tetapi dari sisi etik dan kearifan lokal ini perlu dikaji," kata Handoko di Jakarta, Kamis (13/1/2022).

Handoko menuturkan bahwa pencangkokan organ hewan ke manusia atau xenotransplantasi merupakan hal yang menarik untuk dieksplorasi dari sisi riset.

Namun, menurut dia, ada banyak faktor termasuk etika dan budaya yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan xenotransplantasi, prosedur yang antara lain melibatkan transplantasi, implantasi, atau pemasukan sel hidup, jaringan, atau organ hewan ke manusia.

Xenotransplantasi kini berkembang karena faktanya ratusan bahkan jutaan orang di dunia saat ini mengantre untuk memperoleh organ dari donor. Organ ini mulai dari jantung, ginjal, hati dan banyak lagi.

Gagasan untuk memanen organ dari binatang, termasuk babi, dinilai lebih aman dari sisi medis dan konservervasi, serta lebih ekonomis. Para ilmuwan mengatakan organ babi dan manusia, ukurannya mirip. Selain itu, secara genetika organ babi lebih mudah dicangkok ke manusia ketimbang binatang lain.

Selain itu, babi bukan termasuk binantang yang terancam punah, berbeda dari binatang lain seperti simpanse atau orang utan. Dari sisi ekonomis, babi sangat mudah dan murah diternakkan.

Meski demikian dari sisi etis, gagasan ini masih diperdebatkan karena ada prosedur rekayasa genetik yang di dalamnya yang di antaranya membuat babi memiliki gen-gen manusia. Sederhananya, secara genetik, babi yang kelak diternak untuk diambil organ-organnya, menjadi mirip manusia secara genetik.

Selain dari sisi etik, Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN Iman Hidayat juga mengajukan pertimbangan agama untuk menyikapi terobosan ini.

Iman Hidayat menuturkan bahwa pintu untuk mendalami transplantasi organ hewan ke manusia tetap terbuka bagi peneliti Indonesia. Meski demikian, ia melanjutkan, dalam hal ini faktor etika dan hukum agama harus dipertimbangkan mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim.

Apalagi, menurut Iman, masih ada opsi lain seperti pemasangan organ buatan dan transplantasi sel untuk memperbaiki fungsi organ.

Diwartakan sebelumnya, seorang pasien jantung akut berusia 57 tahun di AS kini hidup menggunakan jantung babi setelah operasi transplantasi yang digelar 7 Januari 2022 kemarin di University of Maryland School of Medicine.

Salah satu pemimpin operasi itu adalah Dr Muhammad Mohiuddin, seorang muslim kelahiran Pakistan yang juga merupakan salah satu perintis xenotransplantasi - transplantasi organ binatang ke manusia - di AS.

Dr Muhmmad sendiri, dalam sebuah wawancara dengan media Turki pada November 2021 kemarin, mengakui bahwa penggunaan organ babi untuk transplantasi bisa menjadi masalah untuk umat Islam.

"Sebagai Muslim, kita mungkin bermasalah dengan babi. Tetapi bagi orang lain, babi adalah makanan," kata Dr Muhammad, yang sudah selama 30 tahun meneliti tentang cangkok organ hewan ke manusia.

Ketika ditanya mengapa bukan organ dari domba atau sapi yang digunakan dalam cangkok organ ke manusia, Dr Muhammad memberikan alasan ilmiah.

"Kami sudah memetakan genom babi secara lengkap. Kami tahu apa perbedaan babi dari manusia, serta perubahan apa yang diperlukan agar organ-organnya bisa diterima oleh tubuh manusia. Kami belum tahu banyak tentang kambing atau sapi," terang dia.

Sementara saat mengumumkan keberhasilan operasi cangkok jantung babi pada pekan lalu, Dr Muhammad mengatakan bahwa terobosan ini penting dalam dunia medis, terutama untuk mengakhiri penderitaan ratusan ribu, bahkan jutaan pasien di dunia yang mengantre menantikan donor organ tubuh.

"Jika ini berhasil, maka kita akan memiliki pasokan organ tidak terbatas untuk pasien-pasien (yang membutuhkan donor organ) yang kini sedang menderita," kata Dr Muhammad.

Itulah tanggapan BRIN terkait kesuksesan ilmuwan AS melakukan operasi transplantasi jantung babi ke manusia.

Sejarah, Pria Amerika Dapat Transplantasi Jantung Babi

Seorang warga Amerika Serikat menjadi orang pertama di dunia yang mendapatkan transplantasi jantung dari babi hasil rekayasa genetika.

David Bennett, 57, dalam kondisi baik tiga hari setelah menjalani operasi transplantasi jantung selama tujuh jam di Baltimore, demikian dikabarkan BBC, Selasa (11/1/2021), mengutip keterangan para dokter.

Operasi tersebut dinilai sebagai satu-satunya harapan yang dimiliki Bennett untuk bertahan hidup, meskipun belum diketahui peluang jangka panjangnya.

"Pilihannya mati atau menjalani transplantasi ini," kata Bennett sehari sebelum dia masuk ruang operasi.

"Saya paham ini ibarat menembak dalam kegelapan, tetapi ini juga pilihan terakhir yang saya punya," imbuhnya.

Para dokter di pusat medis University of Maryland mendapat dispensasi dari regulator kesehatan Amerika untuk melakukan transplantasi ini dengan pertimbangan bahwa Bennett akan meninggal jika tidak dilakukan tindakan itu.

Bennet dinyatakan tidak mungkin mendapat tansplantasi jantung manusia karena kondisi kesehatannya sangat buruk.

Dia sudah terbaring sakit selama enam pekan sebelum operasi dan mengandalkan mesin untuk bertahan hidup setelah didiagnosa menderita penyakit jantung.

"Saya ingin bangun dari tempat tidur setelah sembuh," ujarnya pekan lalu.

Senin kemarin, Bennett dilaporkan bisa bernapas sendiri tanpa bantuan mesin meski masih dalam pengawasan ketat.

Namun, dampak berikutnya masih sulit diprediksi. Babi yang digunakan dalam transplantasi sudah menjalani rekayasa genetika untuk membuang sejumlah gen yang bisa mendapat penolakan dari tubuh Bennett.

Bagi tim medis, transplantasi ini menjadi puncak dari penelitian yang sudah dilakukan bertahun-tahun dan diharapkan bisa menyelamatkan banyak nyawa di seluruh dunia.

Jika sukses, transplantasi ini akan membawa dunia satu langkah lebih maju untuk mengatasi krisis kekurangan organ manusia, kata doker bedah Bartley Griffith di Fakultas Kedokteran University of Maryland.

"Kami belum pernah melakukan hal seperti ini pada manusia dan saya pikir kami telah memberinya opsi yang lebih baik daripada melanjutkan terapi yang sudah dia jalani," kata Griffith.

"Namun, apakah dia akan bertahan hidup sehari, sepekan, sebulan, atau setahun, saya tidak tahu."

Menurut statistik, 17 orang meninggal di Amerika setiap harinya saat menunggu transplantasi organ, dan masih ada lebih dari 100.000 pasien di daftar tunggu.

Penggunaan organ binatang atau xenotransplantation sudah lama dipertimbangkan, dan penggunaan katup jantung babi juga sudah umum dilakukan.

Pada Oktober 2021, para dokter bedah di New York mengumumkan mereka berhasil melakukan transplantasi ginjal babi ke seorang pasien dan menjadi eksperimen paling canggih ketika itu.

Namun, eksperimen dilakukan pada pasien yang sudah mengalami kematian otak dan tidak punya harapan untuk sembuh.***