BOR RS Covid-19 di Bandung Sudah Lampaui 90 Persen

BOR RS Covid-19 di Bandung Sudah Lampaui 90 Persen
Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana. (humas bandung)

WJtoday, Bandung - PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya menambah tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19. Tak hanya itu, Pemkot Bandung juga mendorong konversi tempat tidur perawatan non-Covid-19 menjadi perawatan Covid-19.

Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengakui, peningkatan kasus Covid-19 di Kota Bandung masih sangat tinggi. Biasanya penambahan kasus di Kota Bandung tidak lebih dari 100 orang per hari, namun pada Rabu (7 Juli 2021) menyentuh angka 450 per hari.

"BOR (Bed Occupancy Rate) juga di atas 90 persen. Itu menunjukkan rumah sakit sangat penuh," kata Yana usai Apel Persiapan Sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) On The Street di Metro Indah Mall, Kota Bandung, Kamis (8/7/2021).

Ia mengatakan, pada akhir Mei lalu, ada 1.400 tempat tidur di 29 rumah sakit rujukan Covid-19. Saat ini sudah ditambah menjadi 2.266 tempat tidur, namun masih tetap penuh oleh penderita Covid-19.

"Kota Bandung terus berupaya mendorong Rumah Sakit rujukan mengkonversi tempat tidur perawatan non Covid-19 menjadi perawatan Covid-19," sebut Yana.

"Sudah cukup banyak Rumah Sakit yang mengonversi sampai di atas 60 persen. Seperti RS Edelweiss menyentuh angka 73 persen tempat tidurnya dipergunakan untuk pelayanan Covid-19. Di sana BOR-nya sudah di angka 103 persen," tambahnya.

Ia mengungkapkan, 2.266 tempat tidur yang disediakan, selalu penuh. "Jadi kejar-kejaran," katanya menggambarkan BOR di rumah sakit.

Baca juga: Panglima TNI Targetkan Herd Immunity di Bandung Akhir Agustus

Dia menegaskan, semua data tersebut menunjukkan bahwa penyebaran Covid-19 terus meningkat. Bahkan yang meninggal bisa sampai 50 orang per hari. Yana pun mengungkapkan, Sejak 24 Juni pasien yang meninggal berkisar 46-50 orang per hari. Padahal sebelumnya tidak lebih dari 10 orang.

Melihat data-data penyebaran Covid-19, wakil wali kota meminta warga untuk mengurangi mobilitas saat pelaksanaan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. 

"Dengan inkubasi 14 hari dari 3 Juli sampai 20 Juli 2021, virus Covid-19 dapat mati," jelas Yana.

Ia menyebutkan, kunci utama menghentikan Covid-19 yaitu transmisi. Jika mobilitas warga masih tinggi, maka kecenderungan penularan juga tinggi.

"Tapi kalau sekarang kitanya diam, virus Corona kan benda mati tapi dia bisa hidup di media seperti selaput lendir mata, hidung, mulut. Kita yang jadi media transmisi perpindahan penyebarannya, manusia," katanya.

"Kalau dia kering ke tanah, mati virusnya. Jadi kalau inkubasinya 14 Hari tidak ada orang yang ditempel oleh virus harusnya pandemi cepat selesai," pungkasnya.   ***