BMKG Ingatkan Pacitan Siapkan Skenario Terburuk Hadapi Potensi Tsunami 28 Meter

BMKG Ingatkan Pacitan Siapkan Skenario Terburuk Hadapi Potensi Tsunami 28 Meter
Ilustrasi (youtube)

WJtoday, Jakarta -  Untuk menghindari dan mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami yang mengintai pesisir Selatan Jawa akibat pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, agar mempersiapkan skenario terburuk gempa dan tsunami.

Berdasarkan hasil penelitian, pantai Pacitan memiliki potensi tsunami setinggi 28 meter dengan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit. 

"Adapun tinggi genangan di darat berkisar sekitar 15-16 meter dengan potensi jarak genangan mencapai 4 - 6 kilometer dari bibir pantai," ujar Kepala BMKG, Dwikorita, dalam keterangan yang dikeluarkan di Jakarta, Senin (13/9/2021).

Ia melanjutkan, masyarakat di wilayah pesisir pantai harus segera mengungsi ke dataran yang lebih tinggi jika merasakan guncangan gempa yang besar. 

"Untuk masyarakat yang berada di pantai, tidak perlu menunggu perintah, aba-aba, atau sirine, segera lari karena waktu yang dimiliki hanya sekitar 29 menit, sedangkan jarak tempat yang aman yang lebih tinggi cukup jauh," jelasnya.

Dia mengungkapkan, skenario tersebut artinya masih bersifat potensi yang bisa saja terjadi atau bahkan tidak terjadi. Namun demikian, masyarakat dan pemerintah daerah harus sudah siap dengan skenario terburuk tersebut.

Dia menambahkan, bila masyarakat dan pemerintah daerah siap, maka jumlah korban jiwa maupun kerugian materi dapat diminimalisir. 

"Jika masyarakat terlatih maka tidak ada istilah gugup dan gagap saat bencana terjadi. Begitu gempa terjadi, baik masyarakat maupun pemerintah sudah tahu apa-apa saja yang harus dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas tersebut," tegas Dwikorita.

Hingga saat ini, jelas Dwikorita, tidak ada teknologi atau satu pun negara di dunia yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa dan tsunami secara tepat dan akurat. Semua masih sebatas kajian yang didasarkan pada salah satunya adalah sejarah gempa di wilayah tersebut.

BMKG kemudian merekomendasikan kepada pemda agar menyiapkan dan menambah jalur-jalur evakuasi lengkap dengan rambu-rambu di zona merah menuju zona hijau.

"Saya rasa perlu juga disiapkan semacam Tempat Evakuasi Sementara (TES) ataupun Tempat Evakuasi Akhir (TEA) sebagai tempat penampungan khusus bagi warga yang mengungsi dengan ketersediaan stok/cadangan logistik yang memadai," tandasnya.  ***