RENUNGAN JUMAT

Bersedekahlah dengan Harta yang Kamu Cintai

Bersedekahlah dengan Harta yang Kamu Cintai
Ilustrasi (wjtoday/yoga enggar)

WJtoday, Bandung - Manusia diciptakan dengan fitrah berupa kecenderungan mencintai harta benda, semua manusia memiliki fitrah ini. Tidak ada manusia yang tidak mencintai hartanya. 

Namun ada hikayat dari beberapa yang mampu menekan kecintaan itu sehingga tidak melebihi cintanya pada Allah, Rasul, dan jihad di jalan Allah melalui jiwa dan harta

Ada suatu kisah sahabat yang menyedekahkan harta yang paling dicintainya. Ia adalah Abu Thalhah. Berkat keimanannya, maka dengan ikhlas dirinya menyedekahkan kebun tersebut.

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a, salah satu kebun terbesar  yang dimilikinya bernama Birha dan kebun inilah yang paling disukai olehnya. Letaknya berdekatan dengan Masjid Nabawi dan airnya sangat manis serta mengalir deras. Nabi SAW sering duduk di kebun ini dan meminum airnya.

Ketika ayat berikut turun: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang paling kamu cintai.” (Q.S. Ali Imran:92)

Maka Abu Thalhah ra segera menjumpai Nabi SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, aku sangat mencintai kebunku, Birha. Dan Allah memerintahkan untuk mengorbankan harta yang paling kita cintai. Untuk itu, aku ingin menginfakkan kebun yang sangat paling aku cintai ini fi sabilillah. Apa pun yang menurut engkau baik untuk digunakan, maka gunakanlah.”

Rasulullah SAW menampakkan rasa gembira yang luar biasa. Beliau bersabda, “Harta yang sangat berharga. Menurutku, bagikanlah harta ini kepada kaum kerabatmu yang memerlukannya.” Kemudian Abu Thalhah ra membagikan hartanya itu kepada sanak saudaranya.

Kisah mirip tapi tidak sama dari Sahabat Nabi lainnya adalah Zaid bin Haritsah, harta yang paling ia cintai seekor kuda bernama “Sab”. Ketika ayat di atas turun, maka ia pun menyedekahkan kudanya pada Rasulullah. 

Ketika kuda itu digiring oleh anaknya, Rasulullah melihat wajah Zaid berubah, maka ia pun bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menerima darimu wahai Zaid." (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim, dalam Tafsir Al-Qurthubi).

Bersedekah dengan harta yang paling dicintai, merupakan bukti ketulusan kita dalam mencintai Allah. Terlebih, menjaga diri kita dari nafsu duniawi dan sifat kikir.

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya. Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al Baqarah: 267)

Namun perlu diingat, bersedekah tidak selalu menggunakan uang, bisa juga dengan benda yang kita miliki.

Saat ini peluang berinfaq dan bersedekah sangat terbuka lebar, lihatlah begitu banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kemelaratan, hanya sekadar makan saja tidak cukup, tempat tinggal yang tidak layak, sakit lalu tidak dapat berobat, cerdas tapi tidak dapat melanjutkan sekolah disebabkan oleh keterbatasan biaya. 

Masalah di atas dapat kita pikul bersama dengan menyisihkan sebagian harta pendapatan rutin bulanan yang kita miliki, tidak mesti harta yang paling kita cintai, namun cukup 2,5% dari total penghasilan bagi mereka yang bergaji tetap. 

Atau bersedekah dengan hasil bumi bagi petani, dan apa saja dari harta kita yang dapat bermanfaat untuk orang lain bisa menjadi infaq dan shadaqah bernilai ibadah di sisi Allah. Kecuali bagi mereka yang sudah masuk kategori muzakki berupa pendapatan rutinnya sudah memenuhi hitungan nishab, maka ia harus berzakat sesuai ketentuan.

Jika belum juga mampu bersedekah dengan harta, cukup dengan senyum dan doa pada sesama pun tidak akan sia-sia. Kalau enggan mendoakan sesama dan malas tersenyum, maka ucapkan kalimat-thayyibah yang mampu menjadi harta karun di Hari Akhirat, yaitu: La haula wa la quwwata illa billah, Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.

Banyak orang bersedekah menggunakan sisa hartanya. Sebetulnya, perbuatan itu tidak boleh dilakukan, karena sedekah merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan. Ibadah tidak boleh dilakukan dengan sisi-sisa, entah itu sisa waktu ataupun sisa-sisa yang lain.

Jadi sebaiknya hindari bersedekah dengan uang sisa atau harta sisa. Lebih baik kita bersedekah atau berinfaq dengan harta yang kita cintai, supaya puncak dalam ibadah kita itu sempurna.   ***

(Pam: dari berbagai sumber)