Bermodalkan Keterbatasan, Putra Satria Siliwangi Mampu Torehkan Prestasi Luar Biasa

Bermodalkan Keterbatasan, Putra Satria Siliwangi Mampu Torehkan Prestasi Luar Biasa
Guru Besar Paguron Pencak Silat Putra Satria Siliwangi Dedeng Priatna Atmaja saat menerima trofi juara umum gelaran Pasanggiri Seni Ibing Pencak Silat 'Jawara Munggaran 2' se- Bandung Raya, yang diselenggarakan di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jalan Peta, Kota Bandung, Senin, 27/6/2022. (wjtoday/pam)

WJtoday, Bandung - Perguruan Pencak Silat Putra Satria Siliwangi (PSS) mampu menorehkan prestasi gemilang dengan menyabet Juara Umum Pasanggiri Seni Ibing Pencak Silat 'Jawara Munggaran 2' tingkat se-Bandung Raya, yang diselenggarakan di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jalan Peta, Kota Bandung.

Perhelatan 'Jawara Munggaran 2' diinisiasi oleh Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PPSI) Kota Bandung berkolaborasi dengan komunitas Coklat Kita, berlangsung dari tanggal 25 hingga 27 Juni 2022, diikuti sekitar 52 paguron.

PSS menjadi juara umum dengan berhasil mengoleksi 15 medali emas, dan 9 medali perak.

Guru besar PSS Dedeng S Priatna Atmaja mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan para siswa didiknya yang mampu tampil maksimal untuk menyabet sejumlah gelar di kategori, ibing tunggal, ijen, dan rampak.

"Alhamdulillah, sama sekali saya tak menyangka bakal menjadi juara umum di event kali ini. Raihan ini merupakan prestasi yang  luar biasa bagi PSS sejak berdirinya." kata Dedeng saat ditemui WJtoday, Selasa (28/6/2022).

Hasil pada event kali ini memang menjadi puncak prestasi selama paguron berdiri. Pada pertandingan-pertandingan sebelumnya di tingkat Kota Bandung PSS pun mampu menyabet sejumlah gelar juara, namun belum mampu menyabet gelar juara umum.

"Sebelumnya kita ikut juga beberapa kejuaraan dan berhasil meraih gelar juara, tapi belum mampu menjadi juara umum. Kali ini alhamdulillah pencapaian yang terbaik diperoleh PSS berkat penampilan para siswa secara maksimal." tuturnya.

Dia mengutarakan, paguron (perguruan) yang dibinanya relatif bisa dikatakan masih muda, namun mampu mencuri perhatian kalangan seni ibing pencak silat di Kota Kembang. Diibaratkannya, PSS masih seperti bayi.

"Ya, PSS baru berumur 6 tahun sejak resmi berdiri sebagai paguron terdaftar di PPSI Kota Bandung. Kami ini ibaratnya masih bayi. Tapi alhamdulillah jadi bayi ajaib, telah mampu berprestasi dan bersaing untuk wilayah Bandung." jelasnya.

Namun, karena masih berusia muda, Ki Anom, sapaan akrabnya, mengungkapkan pula PSS mempunyai keterbatasan yang menjadi kendala untuk membuat PSS mampu tumbuh menjadi semakin besar dan meraih lebih banyak berprestasi.

"Terutama kami terkendala soal sarana latihan yang luas dan representatif, yang mampu menampung banyak siswa berlatih leluasa dan nyaman." sebut Ki Anom.

Dikemukakannya, pada awal berdiri PSS diperbolehkan mempergunakan ruangan di madrasah di dekat tempat tinggalnya di Jalan Haji Kurdi.

"Namun sejak beberapa waktu lalu pihak pewaris tanah wakaf tersebut tak lagi memperbolehkan dipergunakan untuk kegiatan pencak silat. Alasannya apa juga tak ada yang konfirmasi langsung ke saya" terangnya.

"Akhirnya saya latih para siswa bergiliran di rumah dan di gang depan rumah, karena tak mampu menampung siswa dalam jumlah banyak." dia menambahkan.

Bahkan, Ki Anom melanjutkan, untuk persiapan gelaran Jawara Munggaran 2 ini, dia melatih para siswa di luar rumahnya agar mampu berlatih secara bersamaan.

"Prihatin sekali memang, kami berlatih di halaman bengkel asesoris mobil, serta halaman Kantor Telkom Jalan Mohamad Toha, untuk persiapan event kali ini. Dan kadang para siswa harus berlatih hingga larut malam karena tempatnya baru bisa dipakai usai jam kerja." ungkap Ki Anom.

Diakuinya, secara finansial pihaknya belum mampu menyediakan tempat berlatih yang representatif. Untuk itu Ki Anom dengan tangan terbuka menyambut apabila ada pihak yang berkenan membantunya.

"Tidak usah berlokasi di Haji Kurdi juga tidak apa-apa, asal dekat-dekat sini, karena para siswa kebanyakan ya warga sekitaran Kelurahan Karasak." ucap ki Anom.

"Saya sedih menyaksikan semangat besar para siswa untuk berlatih namum belum mampu didukung tempat yang nyaman" imbuhnya.

Namun demikian, Ki Anom tetap betekad dengan segala keterbatasan yang saat ini dia hadapi, pihaknya bertekad tetap melestarikan seni pencak silat yang menjadi ciri khas paguronnya, sebagai upaya menjaga waisan tradisi dan leluhur.

" Warisan tradisi dan leluhur ini sekuat tenaga akan kami jaga dan pelihara." katanya.

"PSS akan terus berprestasi, terus bermanfaat bagi lingkungan, dan saya terus gembleng para siswa menjadi jawara. Bukan jawara ahli gelut, tapi jawara yang mampu menjadi terbaik dengan segala kemampuan yang dimiliki diri sendiri." tegasnya.

Dengan sejumlah prestasi yang berhasil diraih para siswa PSS, dampak positif bagi mereka adalah lolosnya ke sekolah negeri melalui jalur prestasi.

"Alhamdulillah sudah belasan siswa PSS yang lolos masuk sekolah negeri melalui jalur prestasi." tutup Ki Anom.  ***