Beberapa Salah Kaprah Tentang Minum Vitamin dan Suplemen

Beberapa Salah Kaprah Tentang Minum Vitamin dan Suplemen
Ilustrasi (youtube)

WJtoday, Bandung - Pandemi Covid-19 mebuat banyak orang berbondong-bondong mencari vitamin atau suplemen dengan maksud memperkuat daya tahan tubuh agar terhindar dari paparan Covid-19.

Tak ada yang salah dengan hal tersebut, dengan mengonsumsi vitamin atau suplemen sesuai kebutuhan tak merugikan bagi tubuh anda selama tidak berlebihan.

Namun, tak sedikit orang yang salah kaprah dengan penggunaan vitamin atau suplemen. Banyak dari mereka yang sengaja mengonsumsi suplemen atau vitamin dengan maksud memenuhi kebutuhan gizi lantaran tak makan dengan seimbang

Ditambah, banyak yang kadung percaya dengan berbagai mitos seputar vitamin yang dipercaya bisa menggantikan kebutuhan gizi dari makanan sehari-hari

Sebagaimana dilansir Medical News Today, dalam sebuah Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional yang dilakukan pada 2011-2012, 52 persen orang dewasa di Amerika Serikat melaporkan telah menggunakan beberapa jenis suplemen. Hampir 1 dari 3 orang juga mengaku mengonsumsi multivitamin.

1. Label 'herbal' belum tentu alami
Tak sedikit yang mempercayai bahwa label alami atau herbal sangat aman untuk dikonsumsi. Padahal istilah alami belum tentu membuat vitamin tersebut 100 persen aman dari zat kimia.

Namun kenyataannya, banyak dari produk dengan label alami justru mengandung bahan aktif yang dapat mengganggu obat lain. Oleh karena itu, suplemen dapat meningkatkan atau mengurangi efek obat-obatan farmasi.

Pakar nutrisi Tan Shot Yen bahkan menyebut kepercayaan terhadap produk vitamin dengan label herbal atau alami ini bisa berujung salah kaprah. Tan mengingatkan tak semua hal yang diberi label herbal sama sekali tak mengandung zat kimia.

"Istilah herbal kesannya "bukan bahan kimia" padahal senyawa metabolit sekundernya kan unsur kimia juga," kata Tan seperti dikutip CNNIndonesia.com, Kamis (29/7/2021).

Oleh karena itu, Tan mengingatkan jangan sampai terkungkung dengan berbagai mitos seputar vitamin. Memang bisa jadi mereka produk alami, tetapi tetap telah melalui proses secara kimia.

"Ketimbang beli suplemen 'herbal' kan mending makan bahan pangan benerannya. Ya alami sih bisa pasti, tapi kan terproses," jelasnya.

2. Vitamin pengganti makan
Tan juga menyebut vitamin yang diperlukan tubuh sepenuhnya terdapat dalam makanan sehat yang dikonsumsi setiap hari. Jika seseorang makan dengan seimbang, maka tak perlu lagi mengonsumsi vitamin atau suplemen dalam bentuk tablet.

"Vitamin itu ada dalam makanan sehari-hari," kata Tan.

Tan memberi contoh misalnya ketika seseorang mengonsumsi buah mangga, ada berbagai jenis vitamin yang bisa diserap tubuh. Tak hanya vitamin C, tubuh juga bisa menyerap vitamin A, polifenol, hingga fruktosa yang memang terkandung dalam buah mangga.

Tan membantah mitos seputar vitamin yang bisa digunakan sebagai pengganti makanan. Sebab kata dia, di dunia kesehatan vitamin atau suplemen hanya digunakan sebagai adjuvan.

"Artinya hanya sebagai imbuhan untuk pemulihan. Itu pun jumlahnya disesuaikan kebutuhan masing-masing dan disesuaikan dengan kondisi orangnya," terang Tan. "Sangat salah jika vitamin dianggap pengganti pangan sesungguhnya," tambahnya menegaskan.

3. Vitamin C dapat mencegah flu
Medical News Today juga merangkum mitos lain seputar vitamin. Salah satunya terkait vitamin C yang disebut-sebut berguna untuk mencegah flu. Padahal, belum ada bukti ilmiah vitamin C dapat mencegah pilek atau masuk angin.

Sejumlah ilmuan yang melakukan penelitian awal terkait hal ini bahkan mengatakan suplementasi vitamin C tidak mencegah flu biasa tapi bisa mengurangi tingkat keparahan gejala dan durasi pilek.

4. Lebih banyak lebih baik
Tak sedikit orang yang menganggap bahwa semakin banyak mengonsumsi vitamin maka akan semakin baik.

Faktanya, lebih banyak terkadang bisa berbahaya. Dosis besar dari beberapa vitamin dapat menghambat sistem tubuh. Misalnya, kelebihan konsumsi vitamin C yang dapat menyebabkan keracunan.

"Pemberian vitamin C lebih dari 2.000 miligram per hari dapat mengakibatkan intoksikasi [keracunan] vitamin C. Konsumsi berlebihan dapat mengakibatkan efek samping seperti mual, nyeri ulu hati, hingga diare," kata Sharifah Shakinah, praktisi kesehatan, beberapa waktu lalu.

5. Vitamin B untuk menambah energi
Anda mungkin pernah mendengar anjuran banyak minum vitamin B agar lebih berenergi. Faktanya, itu tidak benar.

Vitamin B adalah bagian dari proses kimia kompleks yang digunakan tubuh Anda untuk mengubah makanan menjadi energi. Tetapi vitamin itu sendiri sebenarnya tidak dapat memberi Anda energi.

""Satu [kesalahpahaman] yang saya dengar selama beberapa dekade sekarang adalah bahwa vitamin memberi Anda energi," kata ahli diet Andy Bellatti, seperti dikutip Insider. 

"Tidak mungkin vitamin bisa memberi Anda energi. Hanya kalori yang bisa melakukannya." tegasnya.  ***
(Sumber: CNNIndonesia.com)