Banyak Pertanyaan Dibalik Diangkatnya Nina Sebagai Kadinkes Jawa Barat

Banyak Pertanyaan Dibalik Diangkatnya Nina Sebagai Kadinkes Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melantik 215 PNS pada jabatan tinggi dan fungsional di lingkungan Pemda Provinsi Jabar, Jumat (25/6/2021).

WJToday,Bandung,- Pelantikan Nina Susana Dewi sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Jawa Barat oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Jumat (25/6/2021) menimbulkan banyak pertanyaan.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah usia Nina yang tinggal setahun lagi memasuki masa pensiun.

Sebelumnya Nina menjabat Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.  Ia menjabat tugas itu sejak 2016 lalu. Nina tahun ini berusia 59 tahun. Ia lahir di Bandung, 3 Desember 1962, merupakan ibu dari tiga orang anak.

Aturan kepegawaian, pejabat struktural pejabat tinggi pratama (eselon 2) maksimal atau pensiun usia 60 tahun. Berarti Nina hanya memangku jabatan Kepala Dinas Kesehatan selama setahun 

Dalam pandangan Ketua Forum Pemantau Kebijakan Publik Jabar (FPKPJ) Agung Hediyanto, pengangkatan Nina memang tidak lazim. 

Mengacu pada PP Nomor 11 Tahun 2017  batas usia paling tinggi untuk mengikuti seleksi pada JPT Pratama atau setara dengan eselon II adalah 56 tahun.

Menurut Agung, aturan tersebut memang digunakan untuk proses seleksi terbuka atau open bidding. Proses seleksi terbuka memang selama ini dilakukan oleh Pemerintah Provinsi.

" Saya belum mengetahui pasti aturan yang digunakan dalam proses seleksi yang kini dilakukan oleh Pemprov Jabar. Katanya sih menggunakan uji kompetensi atau merit sistem," ungkap Agung saat dihubungi Sabtu (26/6/2021).

Terlepas dari aturan yang ada, menurut Agung, pengangkatan Nina tetap menimbulkan banyak pertanyaan. Baginya, semangat atau esensi dari aturan tersebut adalah agar pejabat yang diangkat punya program berkesinambungan. 

" Bu Nina itu kan dari luar, memang sarat pengalaman. Tapi kalau hanya setahun, dia butuh penyesuaian lingkungan paling tidak selama 6 bulan. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang Kadinkes punya beban kerja yang sangat berat," tuturnya.

Hal lain, tambahnya, pengangkatan Nina menunjukkan kalau selama ini proses talenta pool atau kaderisasi pejabat di lingkungan Pemprov Jabar tidak berhasil.

" Ini kontradiksi, satu sisi Jabar menggunakan merit sistem tapi di sisi lain pengangkatan pejabat eselon 2 banyak mengambil dari instansi lain. Ini bisa dimaknai juga Gubernur Ridwan Kamil tidak berhasil," ungkap Agung.

Dalam catatan Agung, sejak Ridwan Kamil jadi Gubernur, banyak sekali pejabat eselon 2 yang diambil dari luar. Diantaranya, Kepala Dinas Bina Marga Koswara, Kepala Dinas Kelautan Hermansyah, Kepala Biro Umum Sumarnas, Kadisdik Dedi Sopandi, Kadishub Heri Antasari, Kadisinfokom Setiadji dll.

" Kecuali Kadisdik yang kinerjanya bagus, banyak pemain transfer dari luar tapi kinerjanya yah biasa biasa saja. Tidak banyak memberikan terobosan atau mendukung program Gubernur. Bahkan Kadinkes yang lalu yang juga berasal dari luar dianggap gagal dan di staf ahlikan. Ini harus jadi catatan tebal bagi Gubernur dan juga pejabat pejabat senior Gedung Sate ," bebernya.

Senada dengan Agung, anggota komisi 1 DPRD Jawa Barat Syahrir menyoroti hal serupa. Bagi Syahrir ditunjuknya Nina, mungkin dengan harapan agar bisa banyak anggaran yang turun dari APBN mengingat Nina berasal dari Kementrian Kesehatan.

Namun di sisi lain, diangkatnya Nina malah mematikan karir pejabat struktural Dinas Kesehatan Jabar yang dari awal meniti karir di Pemprov Jabar.

" Para pejabat di lingkungan Pemprov  lebih memahami masalah yang ada di Jabar. Bisa saja nanti Bu Nina agak sulit berkordinasi dengan Dinas Kab/kota, dengan RSUD Kab/Kota. Karena selama ini karir Nina terbatas di lingkungan RSHS. Tanggung jawab ke Kementerian bukan ke Gubernur," jelas Syahrir, yang sudah empat periode menjadi anggota DPRD Jabar.

Syahrir menambahkan, diangkatnya Nina menunjukkan kalau selama ini ada kegagalan dalam proses pembinaan kaderisasi talenta talenta SDM di Pemprov Jabar yang berkualitas, kompeten, kapable dan berdaya saing. ***