Apakah Kita Termasuk Kaum yang Mendapatkan Kebaikan Ramadan?

Apakah Kita Termasuk Kaum yang Mendapatkan Kebaikan Ramadan?
ilustrasi Kebaikan Ramadan. (islamdotnet)

WJtoday, Bandung - Kita sekarang sudah memasuki bagian-bagian akhir pada bulan Ramadan. Kita perlu mengoreksi diri kita sendiri sebagai bahan evaluasi. Mulai awal Ramadan kemarin sampai hari ini: apakah kualitas dan kuantitas ibadah kita sudah sesuai yang kita harapkan. Atau kita adalah yang hanya melewatinya saja sekedar mentaati perintah Tuhan lalu merasa senang karena kewajiban ini akan berakhir beberapa hari lagi.

Setiap tahun, kita sadar dengan datangnya bulan suci Ramadan, kewajiban dan rukun Islam lainnya terpenuhi, dan umat Islam, atas perintah Allah SWT, dari adzan subuh hingga adzan Maghrib, menghindari hal-hal yang ditentukan dalam Syariah.  

Barang siapa dengan perintah Allahnya meninggalkan sebagian syahwatnya selama satu bulan dalam satu tahun, pasti akan mempersiapkannya untuk mengendalikan syahwatnya di bulan dan waktu lainnya. 

Bahkan tanpa kita sadari Puasa memiliki banyak efek dan berkah individu maupun sosial, termasuk efek puasa untuk mengurangi anomali sosial. Puasa mengurangi kemiskinan, karena puasa membuat si kaya merasakan penderitaan si miskin dan memperhatikan mereka. 

Puasa mengurangi penindasan orang lain, karena puasa mengendalikan kekuatan amarah. 

Puasa mengurangi syahwat dan libido.

Salah satu masalah masyarakat adalah anomali sosial, yang saat ini dengan kemajuan teknologi baik di dunia nyata maupun di dunia maya, kondisi ini membuat godaan setan merambah dan merasuk cepat dalam kehidupan kita.

Jika di masa lalu kita harus menanggung lelah bergerak dalam beranjak pergi untuk belajar bekerja dan menjalani  apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, hari ini, dengan akses yang mudah dan nyaman dengan alat  baru dan aplikasi bermunculan, membuat keinginan yang baik atau tidak baik dapat dengan mudah dicapai. 

Harus diyakini bahwa dalam periode ini, lebih banyak tempat dan ruang yang disediakan oleh media tersebut secara sadar ataupun tidak. 

Kriteria untuk mengenali norma dan anomali dalam kehidupan adalah ajaran agama ditentukan oleh ajaran agama. Dengan kata lain, kriteria untuk membedakan perilaku abnormal dan normal dalam masyarakat agama hanyalah dengan ajaran agama. 

Jika suatu tindakan dan perilaku sesuai dengan norma dan ajaran agama, maka dianggap sebagai tindakan yang wajar, dan jika tidak sesuai, dianggap sebagai tindakan abnormal.

Puasa dan mengurangi anomali sosial.

Penyimpangan dan distorsi, yang dalam arti luas dimaknai sebagai anomali, kurang lebih ada di setiap masyarakat. Berbagai solusi telah diusulkan melalui pendekatan agama dan non-agama. 
Agama Islam, yang merupakan agama yang komprehensif dan sosialis, juga telah memberikan solusi atas persoalan penting ini. Berbagai kebijakan pengendalian dalam menghadapi penyimpangan dan anomali sosial merupakan salah satu strategi Islam. 

Salah satu yang paling penting adalah puasa, yang ditafsirkan Al-Qur'an sebagai menciptakan ketakwaan pada orang yang berpuasa. Ketaqwaan itu seperti rem yang mengendalikan orang yang berpuasa ketika menghadapi keanehan dan melindunginya dari bahaya terjerumus ke dalam penyimpangan. 

Puasa adalah semacam praktik pemurnian diri dan pengembangan dan cara yang cocok untuk mencapai kendali manusia atas diri sendiri dan duniawi. Oleh karena itu, puasa, selain pahala akhirat, yang disebutkan dalam teks-teks agama,  juga mampu mengurangi banyak penyakit dan anomali sosial. 

Berikut beberapa dampak puasa yang mengurangi anomali sosial tersebut: Pengentasan kemiskinan dan jarak strata sosial. Salah satu masalah sosial besar yang selalu diderita manusia dan masih dihadapi dengan semua kemajuan industri dan material yang menimpa umat manusia adalah masalah strata sosial. 

Ini berarti bahwa kemiskinan di satu sisi dan kekayaan di sisi lain. Beberapa orang mengumpulkan begitu banyak kekayaan, lalu memamerkannya dengan begitu vulgar sementara yang lain menderita kemiskinan dan kelaparan. 

Suatu masyarakat di mana sebagian didasarkan pada kekayaan dan bagian penting lainnya didasarkan pada kemiskinan dan kelaparan bukanlah masyarakat yang sehat.

Dalam masyarakat seperti itu, masalah individu dan sosial seperti ketakutan dan kecemasan, kekhawatiran dan pesimisme, kecemburuan, gosip, fitnah, pencurian, kebencian dan permusuhan dan perselisihan tidak dapat dihindari. 

Terlihat orang-orang miskin yang tidak memiliki keyakinan agama yang kuat, dan ketika mereka melihat istri dan anak mereka lapar, mereka melakukan segalanya; Mereka melanggar hukum sosial, melupakan sopan santun dan moral manusia, dan membiarkan apapun dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan mereka. 

Sebagaimana sabda nabi: "Kemiskinan menempatkan manusia di ambang ketidakpercayaan."

Allah mewajibkan puasa agar si kaya dan si miskin setara merasakan. Dan karena orang kaya tidak menyentuh penderitaan dari kelaparan maka akan timbul simpati untuk berbelas kasihan pada orang miskin, dan karena bagi si kaya setiap kali menginginkan sesuatu ia memiliki kekuatan untuk mendapatkannya, Tuhan ingin menciptakan soliditas di antara hamba-hamba-Nya.***

Khutbah Jumat (29/4/2022) di mesjid UI kampus Depok.

Khotib: Bastian Zulyeno
Ketua Prodi Sastra Arab FIB UI.