Antisipasi Penyebaran Wabah Cacar Monyet, IDI Minta Kepulangan Jemaah Haji Dipantau

Antisipasi Penyebaran Wabah Cacar Monyet, IDI Minta Kepulangan Jemaah Haji Dipantau
ilustrasi Kepulangan Jemaah Haji.(twitter )

WJtoday, Jakarta - Ketua Satgas Cacar Monyet Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Hanny Nilasari meminta dilakukan pemantauan kasus cacar monyet secara intensif. Saat ini, katanya, salah satu faktor risiko bisa terjadi dari kepulangan jamaah haji.

Ia mengatakan petugas puskesmas sebaiknya juga melakukan pemeriksaan kelainan kulit pada anggota jamaah haji yang baru pulang ke Tanah Air.

"Di beberapa wilayah sudah dilakukan ke PMI dan puskesmas terkait karena banyak haji yang baru pulang dari luar negeri. Kalau di PMI, kami instruksikan sebelum lakukan tindakan pengambilan sampel darah, periksa apakah ada kelainan di kulit, gejala demam, dan lainnya," katanya melalui keterangannya beberapa waktu lalu.

"Kami mendukung dilakukan contact tracing (pelacakan kontak) apabila ada kasus dugaan cacar monyet. Tenaga kesehatan juga diminta memakai alat pelindung ketika menangani pasien," kata Hanny.

Satgas IDI berkolaborasi dengan organisasi-organisasi profesi kedokteran untuk meningkatkan pemantauan kasus penularan penyakit cacar monyet. Pada 2 Agustus 2022, Satgas Cacar Monyet IDI telah menyampaikan rekomendasi ke seluruh pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penularan cacar monyet.

Satgas juga mempublikasikan temuan kasus agar masyarakat awam bisa meningkatkan kewaspadaan serta segera melapor jika mengalami atau mendapati orang dengan gejala serupa cacar monyet.

Cacar monyet atau monkeypox tak ubahnya penyakit lain. Seseorang bisa tertular cacar monyet lebih dari satu kali. "Cacar monyet jadi hampir sama dengan infeksi virus lain, apabila infeksi virus pada saat itu ada gejala dan tubuh akan bentuk antibodi, apa ada kemungkinan (reinfeksi), bisa. Tubuh itu punya antibodi untuk masa tertentu kecuali dia punya kondisi defisiensi imun tubuh, daya tahannya lemah makanya bisa reinfeksi berulang," ujar Hanny.

Oleh karenanya, ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran virus ini dengan terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan menjaga imunitas. Pasalnya, seluruh kelompok manusia yang melakukan kontak fisik maupun seksual memiliki risiko terinfeksi virus cacar monyet.

Beberapa gejala yang berhubungan dengan cacar monyet antara lain seperti demam, sakit kepala kronis, nyeri otot, sakit punggung, panas dingin dan batuk. Serta ada pembengkakan kelenjar getah bening. Beberapa gejala lain yang juga muncul ketika seseorang terkena infeksi virus cacar monyet adalah kulit melepuh dengan sedikit cairan, ruam berwarna merah, dan lainnya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, mengatakan, hingga kini pemberian vaksinasi untuk cacar monyet masih perlu penelitian lebih lanjut. Menurut Tjandra menghindari kontak langsung dengan pasien masih menjadi cara pencegahan terbaik.

Dari sudut virologi virus penyebab cacar monyet masuk dalam kelompok genus orthopoxvirus, bersama dengan virus smallpox penyebab penyakit cacar yang sudah dieradikasi di muka bumi pada tahun 1980. Karena masih dalam satu genus maka diduga bahwa mereka yang sebelum tahun 1980 sudah pernah divaksin cacar maka akan punya proteksi juga terhadap cacar monyet.

"Dalam hal ini, Dr Anthony Fauci penasehat penyakit menular pemerintah Amerika Serikat mengatakan bahwa lamanya proteksi vaksin cacar dapat berbeda dari orang ke orang, sehingga kita tidak dapat menjamin sepenuhnya bahwa mereka yang dulu sudah divaksin cacar akan terlindung pula terhadap cacar monyet kini," tutur Tjandra.

Tjandra mengatakan, WHO saat ini belum merekomendasikan pemberian vaksinasi massal pada seluruh penduduk. Yang dianjurkan adalah vaksinasi pada mereka yang kontak dengan pasien cacar monyet, termasuk petugas kesehatan dan mereka dengan risiko penularan sexual. ***