Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Siapa Paling Kuat Maju Pilpres 2024?

Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Siapa Paling Kuat Maju Pilpres 2024?
Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil,

WJtoday, Jakarta - Beberapa kepala daerah seringkali masuk daftar tokoh paling berpeluang menjadi kandidat Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024 mendatang di berbagai survei. Mereka adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Berdasarkan survei nasional Indonesia Political Opinion (IPO) pada Maret 2021, Anies di peringkat pertama dengan meraih dukungan sebesar 15,8% responden. Kemudian, Ganjar Pranowo di posisi kedua dengan 12,6%, lalu Ridwan Kamil di urutan keempat dengan 7,9%.

Sementara itu, survei yang dilakukan Lembaga Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pada 28 Februari sampai 8 Maret 2021, nama Ganjar di posisi teratas alias calon paling potensial di Pilpres 2024 dengan 20,8%. Kemudian disusul oleh Anies Baswedan dengan 15,7%. Sedangkan Ridwan Kamil di urutan keempat dengan 7,9%.

Selanjutnya, berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia yang dilakukan pada Maret 2021, Anies Baswedan memperoleh angka tertinggi, yakni 15,2%. Di urutan kedua adalah Ganjar Pranowo dengan angka 13,7%.

Ridwan Kamil berada di posisi ketiga dengan 10,2%. Lalu, siapa yang paling kuat untuk Pilpres mendatang diantara ketiga tokoh kepala daerah tersebut?

"Yang paling kuat Anies. Banyak prestasi nasional dan internasional. Punya banyak pengalaman di pemerintahan. Pernah jadi menteri dan saat ini sedang jadi Gubernur DKI Jakarta," ujar Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, Sabtu (22/5/2021).

Sementara itu, Direktur Lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara mengatakan, skenario Pilpres 2024 yang mungkin terjadi adalah kandidat presiden berlatarbelakang menteri di kabinet Jokowi saat ini nanti akan berhadapan dengan kandidat kuat lainnnya yang berlatarbelakang kepala daerah, yaitu Anies Baswedan, Ridwan Kamil, atau Ganjar Pranowo yang rata-rata semuanya sekarang sering ditampilkan dan ditonjolkan oleh survei-survei.

"Di antara tiga nama kepala daerah tersebut, nama Anies Baswedan punya elektabilitas paling bagus, tetapi tingkat likeability pemilih Jokowi sangat rendah. Sebaliknya, Ganjar Pranowo mungkin tinggi pada pemilih Jokowi, tapi rendah pada pemilih muslim yang tidak suka pada Jokowi. Sementara Ridwan kamil yang paling aman di antara keduanya," kata Igor.

Namun, menurut dia, sejumlah kepala daerah yang namanya terus dimunculkan tersebut sebenarnya tergolong lemah untuk menjadi Capres di 2024 karena bukan kader parpol atau bagian dari oligarki partai. Oleh karena itu, dia memprediks para kepala daerah tersebut hanya akan menjadi pendamping alias Cawapres dari tokoh partai yang saat ini menjadi menteri di kabinet Jokowi.

"Jadi bisa saja skenarionya nanti adalah pasangan lelaki-perempuan, yaitu Prabowo-Puan berhadapan dengan pasangan Airlangga Hartarto-Khofifah Indar Parawansa. Atau duet berlatarbelakang militer-sipil, yaitu Prabowo-Anies Baswedan melawan duet Airlangga Hartarto-Gatot Nurmantyo," tuturnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo berpendapat hasil survei hari ini tidak akan menjamin apa yang akan terjadi di 2024. 

"Bahwa semuanya masih memiliki peluang besar, bahkan mereka yang hampir tidak ada namanya hari ini pun masih punya peluang, apalagi yang ada namanya di survei, termasuk yang tinggi-tinggi itu," kata Kunto.

Menurut dia, masalahnya adalah bagaimana menjaga ritme supaya pemilih tidak bosa. Kata dia, masyarakat Indonesia itu cepat bosan dan cepat lupa. 

"Kalau tiga tokoh kepala daerah ini enggak punya inovasi, enggak punya kebaruan di setiap momentumnya maka itu akan bisa disalip oleh tokoh-tokoh lain dengan mudah," tuturnya.

Dia berharap, semakin banyak nama yang muncul akan semakin bagus. 

"Karena kita enggak usah terpaku pada elektabilitas hari ini kan, kita lihat setahun menjelang 2024 untuk kemudian dalam setahun elektabilitasnya segera diperbaiki, terpenting adalah performa masing-masing tokoh yang ingin menjadi calon presiden maupun calon wakil presiden 2024," tuturnya.

Menurut dia, performa yang baik akan membuahkan elektabilitas tinggi, terleih setelah dilirik oleh partai, kemudian dicalonkan definitif oleh partai. 

"Kalau kita lihat sejarahnya 2004, sebelum 2004 itu nama SBY bahkan enggak masuk survei, baru setahun mau Pemilu nama dia baru ada di survei, itu pun lima persen," katanya.

Selain itu, kata dia, Jokowi baru ada di survei pada tahun 2013.

"2014 nya baru Pemilu. Dan itu kan gara-gara Pilkada DKI nama Jokowi naik di elektabilitas dan elektabilitasnya juga baru belasan persen," pungkasnya.***