Anak Akidi Tio Dikabarkan Punya Kasus di Polda Metro Jaya

Anak Akidi Tio Dikabarkan Punya Kasus di Polda Metro Jaya
Heriyanti, anak Akidi Tio saat tiba di Polda Sumsel, Senin, 2/8/2021. (antara)

WJtoday, Jakarta - Polemik mengenai sumbangan almarhum Akidi Tio ramai diperbincangkan. Sejumlah tokoh di Indonesia bahkan mengapresiasi apa yang dilakukan keluarga dermawan ini. 

Diketahu, beberapa waktu lalu, tepatnya pada Senin (26/7) Pemprov Sumsel mendapat bantuan hibah dana penanganan Covid-19 dari dermawan sebesar Rp2 Triliun.  Penyerahan bantuan ini dilakukan dengan seremonial yang luar biasa dihadiri oleh Gubernur Sumsel Herman Deru dan jajaran Polda Sumsel. 

Namun belakangan aparat Polda Sumsel mencium kecurigaan, sehingga akhirnya menetapkan Heryanti, anak Akidi Tio, wajib lapor hingga misteri uang triliunan ini ada kejelasan.

Di sisi lain, beredar informasi anak Akidi Tio itu juga tengah dalam proses hukum di Polda Metro Jaya. Berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang beredar, kasus tersebut sudah dilaporkan sejak 2020.

Kasus yang dilaporkan seorang bernama Jubang Kioh itu melaporkan Heriyanti dengan pasal tindak pidana penipuan. Heriyanti diduga menipu dengan dalih proyek songket Istana Negara dengan anggaran sekitar Rp2,3 miliar. Jubang Kioh dijanjikan Heriyanti mendapat keuntungan 16%.

“Saya cek dulu,” tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (3/8/2021).

Baca juga: Anak Akidi Tio Janjikan Pencairan Uang Rp2 Triliun Hari Ini

 Sementara, Polda Sumsel mengakui jika anak Akidi Tio, Heriyanti, masih menjanjikan uang tersebut akan cair pada  Selasa (3/8). Saat ini, Heriyanti sudah dipulangkan ke rumahnya, setelah diperiksa selama sembilan jam di Mapolda Sumsel pada Senin (2/8).

Keluarga Akidi Tio rencananya akan kembali diperiksa Polda Sumatera Selatan hari ini, Selasa (3/8).

Kasubdit III, Ditreskrimum Polda Sumsel, Christopher S Panjaitan mengatakan, pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk mendalami mengenai uang bantuan sebesar Rp2 triliun yang hingga kini belum dapat dipastikan keberadaannya.  ***