Alasan Tarif PCR di India Bisa Murah

Alasan Tarif PCR di India Bisa Murah

WJtoday, Jakarta - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Tjandra Yoga Aditama menjabarkan mengenai murahnya harga.

"Teman dari India mengatakan mungkin ada subsidi dari pemerintah setempat, sesuatu yang nampaknya barang kali saja terjadi sebagai bagian penanggulangan pandemi," kata Yoga dalam keterangan resmi, Sabtu (14/8/2021).

"Kalau harga tes lebih murah, jumlah tes di negara kita juga dapat lebih banyak sehingga lebih mudah mengendalikan penularan di masyarakat," lanjut dia.

Selain itu, murahnya harga tes PCR di India bisa juga dihasilkan dari fasilitas keringanan pajak yang diberlakukan pemerintah. Kemungkinan lain ialah murahnya bahan baku untuk industri dan tenaga kerja yang besar jumlahnya.

"Semua kemungkinan ini perlu dianalisa lebih lanjut. Tetapi, yang jelas, selain tarif PCR, harga obat-obatan di India juga amat murah bila dibandingkan di Indonesia," beber Yoga.

"Pada waktu 5 tahun bertugas di WHO Asia Tenggara, yang berkantor di New Delhi, India setiap kali pulang ke Jakarta saya selalu membawa titipan obat-obat dari teman-teman di Indonesia untuk konsumsi sehari-hari mereka," imbuh dia.

Ia menceritakan, murahnya harga tes PCR di India memang bukanlah hal yang baru.

Pada September 2020, saat dirinnya akan pulang ke Jakarta dari New Delhi, Yoga melakukan tes PCR sebelum terbang. Adapun, petugas testing langsung datang ke rumahnya dan biayanya sebesar 2.400 rupee atau setara dengan Rp480 ribu.

"Waktu itu, tarif tes PCR di negara kita masih sekitar lebih dari Rp1 juta," ucap Yoga.

Selanjutnya, pada November 2020, tutur Yoga, Pemerintah Kota New Delhi menetapkan harga baru yang jauh lebih rendah lagi, hanya 1.200 rupee atau Rp240 ribu.

Pada November 2020, tarif PCR adalah 800 rupee saja (Rp160 ribu) untuk pemeriksaan di laboratorium dan RS swasta.

Pada awal Agustus 2021 ini, Pemerintah Kota New Delhi menurunkan lagi patokan tarifnya, menjadi 500 rupee atau Rp100 ribu saja.

Kalau pemeriksaannya dilakukan di rumah klien, tarifnya adalah 700 rupee atau Rp140 ribu. Sementara itu tarif pemeriksaan rapid antigen adalah 300 rupee atau Rp60 ribu.

"Pemerintah Kota New Delhi juga meminta agar laboratorium swasta di kota itu dapat menyelesaikan pemeriksaan dan memberi tahu hasilnya ke klien dalam satu kali 24 jam, termasuk juga melaporkannya ke portal pemerintah yang dikelola Indian Council of Medical Research (ICMR) sehingga ditanya segera dikompilasi di tingkat nasional, mencegah keterlambatan pelaporan, inisiatif yang bagus," pungkas dia.***