Akan Ditindak Polri, Pinjaman Online Meresahkan Seperti Preman

Akan Ditindak Polri, Pinjaman Online Meresahkan Seperti Preman
Ilustrasi (modal rakyat)

WJtoday, Jakarta - KEPOLISIAN Republik Indonesia (Polri) akan melakukan penindakan hukum terhadap sejumlah pinjaman online (Pinjol) yang tidak terdaftar secara resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) alias ilegal.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komisiaris Jenderal Agus Andrianto menerbitkan telegram kepada jajaran kepolisian di daerah seluruh Indonesia untuk dapat mengungkap perkara pinjol yang telah meresahkan masyarakat itu.

"Sama seperti disampaikan kemarin, kasus preman, ini kasus pinjaman online (pinjol) pun juga meresahkan masyarakat," kata Wadir Tipideksus Kombes Whisnu Hermawan Februanto di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (17/6/2021).

Whisnu mengatakan bahwa data OJK menyatakan masih terdapat tiga ribu pinjol yang tak terdaftar hingga saat ini.

Menurutnya, para korban dari Pinjol itu seringkali diteror oleh penagihnya dengan berbagai cara.  Ada uang mengabarkan soal pinjaman kepada kerabat atau rekan kerja.

Ada pula yang mengirimkan foto-foto vulgar dan data pribadi milik peminjam kepada khalayak luas di media sosial. Sehingga, peminjam merasa tertekan.

"Bahkan sampai ada yang stres akibat pinjaman ini tidak benar," sebut Whisnu.

Diungkapkannya, kondisinya korban seringkali tak dapat membayar pinjamannya karena dicekik oleh bunga yang terlampau besar. Kasus-kasus pinjol ini, kata dia, telah memakan banyak korban.

"Makanya kami langsung diperintahkan oleh Bapak Kabareskrim untuk membuat telegram ke jajaran tentang pola penanganan dan antisipasi tentang pinjol yang ilegal supaya tidak ada lagi masyarakat yang di-bully," ujar Whisnu.

Sementara itu, Kasubdit V Dittipideksus Bareskrim Kombes Ma'mun menerangkan bahwa para pelaku pinjol tersebut melakukan aksi teror terhadap peminjamnya dengan berbagai cara.

Caranya, seperti menyedot data dari handphone milik peminjam dana sehingga mereka memiliki akses terhadap kontak-kontak yang dimiliki oleh peminjam dana tersebut.

"Begitu Anda akses, Anda ya melakukan pinjaman, itu data Anda di dalam HP itu, daftar kontak ini disedot sama mereka," jelas Ma'mun.

"Jumlah korban secara sosial itu jauh lebih tinggi dibanding jumlah kerugian yang ditimbulkan satu per satu korban itu," imbuhnya.  ***