AJI Minta Jaksa Tahan Dua Terdakwa Penganiaya Jurnalis Tempo di Surabaya

AJI Minta Jaksa Tahan Dua Terdakwa Penganiaya Jurnalis Tempo di Surabaya
Ilustrasi (inews jatim)

WJtoday, Surabaya - Usai sidang dakwaan kasus penganiayaan Jurnalis Tempo di Surabaya, Nurhadi, sejumlah wartawan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan AJI Surabaya menggelar aksi di depan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Dalam aksinya, mereka mengenakan kaus hitam dengan pita putih di lengannya serta menutupi kepala dengan kantung kresek berwarna putih.

Ketua AJI Surabaya Eben Haezer mengatakan kantung kresek ini adalah pengingat bahwa dalam peristiwa penyiksaan itu kepala Nurhadi sempat dibekap pelaku dengan bahan tersebut.

"Kresek penutup kepala ini untuk mengingat bahwa dalam penganiayaan tersebut, Nurhadi juga sempat ditutupi kepalanya menggunakan kresek oleh para pelaku," kata dia, ditemui di lokasi, Kamis (23/9/2021).

Ketua Umum AJI Indonesia Sasmito Madrim, di lokasi yang sama, mengatakan pihaknya berharap majelis hakim PN Surabaya bekerja secara profesional dan transparan dalam pengadilan ini.

"Aparat penegak hukum harus menjalankan praktik penyidikan dan peradilan yang bersih dan profesional," tegas Sasmito.

Dia juga meminta agar majelis hakim memerintahkan kepada jaksa supaya menahan kedua terdakwa, yang hingga kini masih berkeliaran di luar sana sebagai anggota polisi aktif.

"Belum ditahannya kedua terdakwa ini menyebabkan korban ketakutan karena berada di bawah bayang-bayang ancaman," sebutnya.

Sebab, sampai saat ini, korban masih belum bisa pulang ke rumahnya dan belum bisa beraktivitas, serta berada di bawah penanganan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

"Kami juga mendesak kepada polisi untuk menangkap para pelaku lain yang jumlahnya diduga lebih dari 10 orang," ujarnya.

Sebelumnya, dua anggota polisi aktif terdakwa kasus penganiayaan Nurhadi, yakni Bripka Purwanto dan Brigadir Muhammad Firman Subkhi, menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (22/9).

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jatim Winarko mendakwa kedua polisi itu dengan pasal Pasal 18 ayat (1) Undang-undang No.40 tahun 1999 tentang Pers.  ***